Headlines News :
Home » » Catatan Perjalanan : Wisata Pulau Samosir , the Heaven of North Sumatra (Part II )

Catatan Perjalanan : Wisata Pulau Samosir , the Heaven of North Sumatra (Part II )

Written By abdul karim on Tuesday, 30 September 2014 | 18:33



Postingan ini merupakan lanjutan dari Artikel Catatan Perjalanan : Wisata Pulau Samosir , the Heaven of North Sumatra (Part I )


 Makam raja Sidabutar (Belakang)

Beralih dari makam raja sidabutar , Aku dan rudi melangkahkan kaki  sebuah komplek rumah-rumah adat batak yang lebih kami kenal sebagai rumah bolon.  Disini terdapat 4 buah rumah bolon yang berjajar kokoh , rumah adat  ini merupakan rumah kebanggaan masyarakat batak . Bentuknya seperti rumah panggung , memiliki jarak lantai hingga 1,5 meter dari tanah. Sehingga untuk masuk kedalam ruangan  harus terlebih dahulu kita melewati anak-anak tangga , konstruksi bangunan ini didesain tanpa menggunakan paku., atapnya hanya berlapis rumbia dan Ijuk , Dinding-dindingya terbuat dari kayu. Namun siapa sangka bangunan ini bisa bertahan hingga ratusan tahun. D masih sepi , dan sepertinya hanya kami berdua sajalah yang saat ini sibuk berkeliaran disekitar lapangan kecil ini.

Sigale-gale dan Tung-tung
Di Komplek kecil ini pula terdapat satu pertunjukkan adat yang bisa kita nikmati . Pertunjukkan ini disebut dengan sigale-gale,berhadap-hadapan dengan rumah bolon terdapat tempat duduk para wisatawan yang disediakan disaat pertunjukkan boneka sigale-gale dimulai.  secara historikal sigale-sigale merupakan replika artifisial pemuda bernama Manggale , dia merupakan anak semata wayang dari salah satu raja batak . Suatu hari dia gugur dalam sebuah pertempuran perang, dan membuat raja tersebut terpukul dan jatuh sakit. Untuk menghibur sang raja , para penasehat dan pemangku kerajaan berinisiatif untuk membuat patung yang mirip dengan anak raja. Dengan ritual khusus datuk kerajaan membawa patung ini ke istana dan membuat upacara yang diiringi musik  sordam dan gondang. Ajaibnya sang raja yang melihat patung ini berhasil sembuh dari penyakitnya , dan banyak yang percaya bahwa arwah manggale masuk kepatung ini dan menari tarian tor-tor khas batak.

Didepan Rumah bolon dan Patung Sigale-gale

Biasanya pertunjukan patung sigale-gale dimulai sesuai permintaan pengunjung.Terdiri dari 2-3 dalang yang memainkan ruas-ruas dari patung ini.  disusul oleh tarian tor-tor dari para pengunjung dengan musik pengiring yang terdengar senada dengan gerakan .  Jika anda datang hanya secara individual seperti kami berdua disini, para dalang tidak segan untuk mematung tarif sebesar 80.000 ribu rupiah sekali show. Mendengar komentar dari dalang , Rudi sedikit menelan ludah...mungkin terlalu mahal pikirnya. Kami pun memutuskan untuk melajutkan perjalanan.

Diujung komplek ini terdapat sebuah benda besar dan tinggi yang berbentuk seperti monumen, setelah aku dan Rudi mendekat ternyata ini  merupakan tung-tung raksasa yang dibangun masyarakat sebagai tugu peringatan warisan budaya Tung-tung  merupakan alat yang berfungsi seperti kentungan yang menjadi alarm tradisional masyarakat sebagai sinyal pemberitahuan jika ada hal yang mengharuskan masyarakat berkumpul diluar.  Tung-tung biasa terbuat bambu  atau kayu . Simbol tung-tung raksasa ini berdiri kokoh melukiskan secara tidak langsung kearifan budaya masyarakat batak yang perlu dilestarikan.

Tung-tung

Museum Batak dan Ulos
Setelah aku dan Rudi puas menjeprat-jepret disini , kami meninggalkan komplek ini dan berangkat menuju ujung jalan dari pusat jajanan souvenir desa  tomok yang kami lewati , terdapat sebuah rumah adat batak yang terkesan lebih modern . Dari kejauhan tidak semua orang percaya bahwa ini adalah sebuah museum , kecuali telah membaca pamplet yang mengarah ke rumah bolon ini. 

Museum Batak Tomok
Pamplet menuju museum Batak

Seperti rumah-rumah adat lainnya , museum batak ini berbentuk seperti rumah bolon  hanya saja model fisik dan bangunan sudah cenderung terkesan modern. Baik dari segi atap , konstruksi dan sudah menggunakan kaca. Didepan ini pula terdapat gorga yang berisi ornamen Cicak dan 2 Payudara yang memiliki arti filosofis tersendiri disana. Untuk mengenal lebih lanjut tentang makna filosofis dari Gorga tersebut silahkan lihat artikel saya sebelumnya tentang Cicak dalam Filosofi Orang Batak .

Gorga dibagian depan Museum Batak Desa Tomok

Saat hendak masuk kedalam museum ini biasanya kita menemui penjaga yang tinggal disamping museum ini , dia akan memandu kita masuk dan menjelaskan satu persatu ratusan peninggalan -peninggalan budaya batak yang bisa kita lihat disini. Dari ornamen , senjata , alat musik,relief budaya batak ,  patung sigale-gale hingga tulang gajah yang menjadi asset kerajaan. Untuk tarif masuk , sebenarnya kita tidak dikenakan biaya tetap. Hanya saja terdapat kotak sumbangan diujung dekat pintu dan biasanya pemandu akan menyuruh kita untuk memasukkan sumbangan seikhlas hati untuk kebutuhan dan perawatan museum ini.

Museum Batak Tomok Samosir
Rudi memegang tombak yang digunakan peperangan batak
Museum Batak Samosir
Ornamen di museum Batak.
Ada banyak museum-museum batak yang ada. Namun aku hanya mengenal 3 yang paling dikenal oleh wisatwan yang pertama adalah museum batak desa Tomok, kemudian museum Batak Huta Bolon Simanindo, dan museum batak modern TB. Silalahi  Balige. Setelah mendengar beberapa penjelasan dari pemandu kami keluar dari sini dan menyempatkan diri untuk membeli beberapa souvenir untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Setelah beradu mulut dengan inang-inang penjual aku memutuskan membeli sebuah ulos dan Rudi membeli hiasan gelang ala batak. 
"Ini samamu 75 ribu aja  anakku, buka dasarnya kami" kata si penjual sambil memegang ulos ini. 

Ulos merupakan busana khas batak. Ada yang berbentuk selendang/selempang ada pula yang berbentuk sarung. Umumnya ulos tidak lepas dari warna dominasi merah , putih ,hitam sebagai simbol warna kebanggaan masyarakat Batak. Secara adat ulos banyak digunakan pada momen-moment penting masyarakat batak. Seperti Upacara adat , pernikahan hingga upacara pemakaman. Dan harga ulos yang ada disamosir bervariasi dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Ulos umumnya dibuat dengan cara ditenun seperti selempang  Palembang. 



Untuk mendapatkan souvenir-souvenir khas batak, sebenarnya Tomok bukan satu-satunya komplek yang menjajakan ini , pada beberapa tempat seperti di Prapat , Ambarita , Tuktuk dan berbagai kota lain disekitar Samosir dan Danau Toba juga menjajakan berbagai pernak-pernik yang bisa dibawa pulang. Namun, harus saya akui bahwa Tomoklah yang memiliki nilai lebih dibanding tempat lain yang menjajakan souvenir ini. Pusat Penjualan Souvenir ini terdiri dari puluhan kios-kios yang berisi oleh-oleh lengkap untuk dibawa pulang. Setidaknya menguasai sedikit bahasa Batak disini juga sangat membantu untuk mendapatkan harga terbaik. Silahkan lihat video saya disini saat berada di Pusat Souvenir Oleh-oleh Tomok.





Singgah di Tuk-tuk siadong. 
Setelah selesai berkeliling Pusat penjualan souvenir , saya dan Rudi melanjutkan rute menuju Kecamatan Simanindo di Desa Tuktuk Siadong, desa ini merupakan tempat persinggahan yang paling digemari para turis karena memiliki tanjung yang Indah dengan view dan panorama danau Toba yang pasti membuat wisatawan terpukau.
Didepan Gapura Selamat datang di Tuktuk siadong


 Hanya berjarak 5 menit dari Desa Tomok kita bisa melihat barisan hotel dan cottage yang siap melayani para wisatawan. Selain itu banyak olahraga air yang bisa kita manfaatkan disini, Resto-resto dan rumah makan juga tersebar diberbagai sudut jalan. Bisa dikatakan disinilah pusat peristirahatan terbaik di Pulau Samosir. Berbagai tempat yang menyewakan sepeda juga berjejer disini.

Danau toba dari Desa Tuktuk Siadong


Melihat situasi yang layak untuk menjepret , aku mulai memaksa Rudi menghentikan kendaraan, Rudi hanya bisa menggeleng-geleng pasrah melihat tingkahku. Kami pun singgah sejenak dan mengabadikan momen ini didepan sebuah cottage unik dengan atap khas rumah bolon yang berwarna merah. 

 


Menjelang siang perut sudah mulai keroncongan. kami mulai sibuk mencari rumah makan muslim disekitar Tuk tuk Siadong. Sebelumnya Rudi pernah bercerita bahwa salah satu temannya dari Komunitas Telapak Sumut tinggal di Tuktuk dan membuka usaha warung makan muslim disini. Spontan , kami mencari lokasi rumah makan tersebut dan menemukannya disamping kiri jalan. Rumah makan ini juga recommended bagi kalian yang ingin mencari Rumah makan muslim disekitar Desa Tuktuk Siadong.


Sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktu lebih banyak di Desa ini , tapi tema kami hari ini hanya sekedar berbentuk Tour 1 hari. Sayang sekali tidak sempat menikmati jet ski , banana boat atau bersepeda sambil menikmati alam samosir yang sejuk dan Indah. Tapi niat itu kami simpan terlebih dahulu . Dan akan kami sambung di Jilid II nanti . Bersambung ke Catatan Perjalanan : Wisata Pulau Samosir , the Heaven of North Sumatra (Part III )
Share this article :

1 comment:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template