Headlines News :
Home » » Aek Manik , Pemandian Alam Tersembunyi dibalik Kabupaten Simalungun

Aek Manik , Pemandian Alam Tersembunyi dibalik Kabupaten Simalungun

Written By abdul karim on Friday, 8 August 2014 | 18:39


Indahnya Aek Manik

Langit hari ini cukup cerah, awan mulai menggumpal diatas dan mentari baru saja mengintip dibalik pohon. Perjalanan ini kami mulai dari kota Medan, aku dan temanku rudi mencoba melirik salah satu potensi wisata dari kabupaten Simalungun. Selama ini aku sudah cukup muak mendengar simalungun hanya dari perpsektif antagonis. Tak bisa kupungkiri bahwa banyak titik didaerah ini yang dibalut dengan infrastruktur yang kurang memadai. Namun disamping persepsi negatif tersebut kita juga harus bangga , bahwa Simalungun juga menyuplai sebagian keindahan wisata Sumatera utara. Dari atraksi budaya , sejarah dan alamnya yang indah mempesona. Dan salah satu destinasi yang layak dijajaki adalah Kecamatan Sidamanik. Selain terdapat panorama kebun teh dan air terjun bah biah terdapat satu objek wisata yang lain. Aek Manik, itulah nama yang kudengar dari sahabatku Rudi . Foto-foto yang kami lihat dari internet merangsang perjalanan ini mengarah ke Kabupaten Simalungun. Aek manik adalah sebuah pemandian alam , yang berhulu dari pancuran mata air desa huta lama menuju perairan irigasi persawahan Kecamatan Sidamanik. Kita dapat mencapai Aek Manik selama 4 jam dari kota Medan via Pematang Siantar dengan jarak tempuh 150 km. 

Pamplet Aek Manik
Pamplet Menuju Aek Manik

Dari simpang Kecamatan Sidamanik, kita hanya perlu waktu 20 menit untuk mencapainya. Tepat didepan lapangan sebelum pasar Sidamanik ada sebuah jalan kecil yang disebut masyarkat setempat dengan jalan Siamatahuting, kurang dari 1 km kami menemukan sebuah pamplet pemandian alam manik. Tempat ini masih sepi dari rumah warga, dari sektor kanan maupun kiri hanya terdapat kebun-kebun masyarakat. Dari sini , kita harus menuruni 62 anak tangga yang akan mengantar kita menuju kebawah. 
Anak Tangga Menuju Aek Manik

Perjalanan yang melelahkan ini akhirnya sedikit terobati , suasana alam yang asri , gemercik air yang mengalir dari mata air , hingga akar-akar pohon yang merayapi dinding-dinding tanah membuat kami lupa diri. Rudi sudah tidak sabar menghempas tubuhnya ke pemandian ini . Airnya bening sekali. Dari sudut dinding bantu keluar air yang mengisi alur pemandian ini . Air ini mengalir seperti sungai , tenang seperti telaga dan jernih seperti kolam renang. Penduduk sekitar menyebut tempat ini dengan Bah Manik. Namun masyarakat luar lebih familiar dengan aek manik. Tidak ada yang salah dengan penamaan ini, Orang-orang batak menyebut air dengan aek sementara simalungun menyebutnya dengan kata bah.Sama seperti “batang” di mandailing atau “lau” di tanah Karo. Dan soal penamaan kata manik di belakangnya, tidak lepas dari daerah sekitar. Rata-rata penduduk di Desa Huta lama bermarga Damanik. Marga yang dititiskan oleh raja simalungun terdahulu , yakni raja Damanik. 

Exciting of Aek Manik

Bah manik dikelola oleh penduduk sekitar dari keturunan raja Damanik, mereka membersihkan, merawat dan mengelola tempat ini. Salah satu pengelola, ungki damanik menuturkan bahwa dahulu tempat ini menjadi favorit raja damanik sebagai tempat pemandian, pohon-pohon yang berada disekitar bah manik sudah ada sejak zaman kakeknya. Namun hanya beberapa bulan belakangan tempat ini mulai dikelola secara baik . 

Me And Aek Manik

Layaknya seperti kota Rjukan di Norwegia, matahari nyaris menghilang disini. Siang hari di aek manik terasa seperti pagi hari diluar sana. Rudi sudah menceburkan diri kedalam . “dingin airnya” katanya. Sambil membersihkan sekitar pemandian , bang angki menyuruhku mencoba airnya. “minum saja airnya bang, kami pun minum dari air itu bang” ujarnya. 

Pancuran Mata Air 
Kutadahkan tangan didekat mata air dan kurasakan seteguk ke tenggorokan . Airnya memang nikmat dan cocok untuk melepas dahaga. Penduduk sekitar memakai air ini tidak hanya untuk air minum , namun membantu mengairi kebun dan persawahan warga. Dengan kualitas air yang baik , beberapa perusahaan air mineral juga sempat melirik dan menawarkan tempat ini untuk dijadikan sumber air utama. Namun , warga setempat menolak . Aek manik sudah menjadi tulang punggung masyarakat , mereka lebih senang sawah-sawah mereka hijau diairi mata air ini dari pada melepasnya kepada pihak komersil. 


Ornamen Buatan Penduduk 

Jika beruntung, di siang hari kita akan didatangi oleh segerombolan monyet-monyet yang mengintip diatas tebing pemandian. Mereka melihat kami penuh penasaran tanpa mengganggu keasyikan pengunjung yang sedang berenang. Diujung pancuran, terdapat sebuah camping ground kecil yang biasa dimanfaatkan untuk menyantap ikan bakar atau lele panggang. Tak perlu jauh-jauh mencari ikan. Di ujung perairan beberapa ikan bisa dipancing atau ditombak sebagai santapan. 



Semakin siang , aek manik semakin kontras dengan warna hutan. Air mulai terlihat menghijau dari kejauhan, mata airnya tidak kuasa menahan grativitasi yang jatuh ke permukaan tanah. Dibawah air nan bening ini sudah berpasir seperti pantai. Dari kejauhan terdapat relief-relief unik yang diukir pemuda setempat. Diantara mata air tersebut diberi pembatas berupa tali yang diikat mengelilingi sumber mata air . Hal ini dilakukan pengelola untuk mencegah pengunjung nakal yang usil memasukkan benda-benda asing kedalam. Berdasarkan pengalaman, pengelola pernah melihat pengunjung yang menyumbat mata air dengan kayu dan benda – benda lain. Demi menjaga keasrian maka sumber mata air di beri batasan agar tidak sembarang orang bisa merusaknya.








Semakin hari aek manik sering mendapat kunjungan dari wisatawan lokal maupun luar daerah, ini menjadi destinasi potensial yang harus kita jaga. 


Bagaimana menuju aek manik : Dari Medan kita menaiki Angkutan / Bus menuju Pematang Siantar seperti sejahtera atau intra dengan tarif 25-30 rb rupiah. Dari Pematang siantar kita menaiki angkot rute siantar - sidamanik seperti beringin indah atau simarjarunjung tarif 7-10 rb rupiah . perjalanan memakan waktu 25 menit , Tepat didepan lapangan desa huta lama (pasar sidamanik) kita berhenti dan masuk ke Jalan siamatahuting sejauh 700 meter , jika menemukan persimpangan tiga silahkan berbelok kekanan dan menemukan pamplet bah manik. Jarak tempuh 150 km dengan lama perjalanan rata-rata 4 jam. Disarankan untuk membawa konsumsi sendiri. Karena fasilitas umum yang jauh dan minim disekitar pemandian.


(TULISAN DAN FOTO2 ARTIKEL INI TELAH DIMUAT DI MAJALAH LOVELY HOLIDAY EDISI JULY 2014) 
Share this article :

2 comments:

  1. Wow..., bolak balik saban tahun pekanbaru medan hanya ke danau toba brastagi via simarjarujung. Eh..otw nya ada keelokan yang terlewatkan rupanya ya,... gak sabar lebaran depan mudah2an ada langkah lagi akan kesan.... kenapa tidak masuk paket wisata sumut ya???...terima kasih infonya....

    ReplyDelete
  2. Apa disitu ada tempat untuk camping. Atau di perbolehkan?

    ReplyDelete

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template