Headlines News :
Home » » Kisahku dan Pohon Rambutan

Kisahku dan Pohon Rambutan

Written By abdul karim on Wednesday, 18 June 2014 | 21:46

Ilustrasi


Sewaktu kecil, sehabis pulang sekolah aku selalu singgah disebuah Gang Kecil yang berjarak 200 meter dari Rumahku. Disana aku dan teman-temanku menghabiskan kesenangan di sebuah lahan kecil yang selalu dingin di kelilingi pohon-pohon rambutan. Lahan ini sering kami jadikan arena permainan tradisional yang sering disebut dengan patok lele. Sebuah permainan klasik dengan memanfaatkan ranting-ranting rambutan dan sedikit lubang ditanah. Ketangkasan , kecepatan dan kebersamaan dibutuhkan disini. Walau terlihat sederhana, tidak jarang salah satu dari kami cidera ringan akibat lemparan kayu nyasar. 
Gunawan dan didin adalah dua teman kecilku , bersama mereka aku seperti tidak pernah mengenal kesedihan. Tidak jarang, saat kami bersama aku sering lupa waktu dan bersiap-siap dimaki halus oleh ibuku. Namun sayang , Apa yang kami buat bersama-sama harus rontok bersama waktu. Walau sudah belasan tahun aku aku meninggalkan mereka , kenangan itu terus membekas bersama rambutan yang hilang ditebang dan patok lele yang punah akibat gadget-gadget pasaran. 

Yang kuingat lapangan itu cukup kecil , luasnya tidak sampai setengah rantai. Namun tajuk-tajuk rimbun rambutan terlihat kokoh mengelilingi tanah ini, siapapun yang berada dibawah akan terbius oleh kesejukan, itulah yang menjadikan kami semakin betah mengumbar kesenangan. kami tidak pernah tau tanah ini miliki siapa . Tidak ada yang pernah mengusir kami hanya karena kami ingin menghabisi keceriaan disini . Menjelang ramadhan adalah waktu terbaik bersama "sirambutan" , setiap selesai bermain patok lele gunawan secara reflek langsung memanjat dengan lihai, kami hanya menunggu malas rambutan jatuh yang dilemparnya. Hampir setiap tahun kami selalu mengulangi hal yang sama, lagi-lagi tidak ada satupun pihak yang protes karena mengambil rambutan ini. Saat angin bertiup lembut kami bercengkrama di Dahan yang besar dan horizontal, diatas ketinggian ini kami sama sekali tidak mengenal takut. Justru kami merasa confort karena berbaur dengan cengkrama. 

Lama kelamaan kegiatan kami mulai tercium pemuda setempat, sejak kedatangan mereka ..patok lele tidak lagi menjadi permainan favorit . Dan dalam beberapa waktu saja tempat ini menjadi lapangan sepak bola. Kami tau , tempat ini jauh dari standar dari lapangan profesional. Tapi bukan profesionalisme yang kami cari, nikmatnya rimbunan pohonlah yang memacu adrenalin kami disini. Para pemuda mulai berbaur bersama kami, mengajarkan sepak bola dan memberikan diskusi kecil setelah selesai pertandingan. Gunawan yang secara fisik lebih kuat selalu menunjukan performanya mengecoh permainan. Patok lele mulai mulai hilang dari pendengaran

Awal tahun 2002 , itulah awal perpisahan kami. Disaat anak-anak sirambutan mulai menjadi wacana warga , disaat itu pula kami harus terurai satu persatu. Puput pindah rumah , aku mulai masuk ke Asrama dan Gunawan maupun Didin sudah mulai fokus Sekolah dan Bekerja. Waktu yang kami lalui harus padam sampai disini. Ditambah lagi Toke Cina mulai melirik tanah ini untuk didirikan Pabrik. Hal ini semakin mengubur asa kami untuk bisa bernostalgia dengan sirambutan. Setangkup kenangan yang telah kami cicipi harus kami bendung dalam ingatan. 
si Rambutan telah tiada , Patok lele sudah lenyap dan kami berpisah menjalani roda kehidupan masing-masing. Kini 12 tahun sudah berlalu, selama itu pula aku tak pernah mengunjungi sirambutan yang sudah rata menjadi lantai pabrik. Aku berharap suatu saat memiliki sirambutan kedua , dan kupanggil anak-anak sekitar untuk mengajari mereka permainan kecil , yang menggandeng kebersamaan dan naluri persahabatan.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template