Headlines News :
Home » » Jum'at Pagi di Tigaraja

Jum'at Pagi di Tigaraja

Written By abdul karim on Friday, 7 March 2014 | 18:23



Ilustrasi





Alam masih berkabut , kami sudah meluncur dari simpang polsek kota Parapat. Mobil-mobil panther yang disulap menjadi oplet. Berlalu-lalang mencari penumpang . Aku dan ayah berdiri melihat kesibukan senja ini. tiba-tiba sebuah oplet menepi.

"Tudia, mang ?" dengan logat khas batak sang sopir menyapa kami
"Tigaraja" kataku

Supir ini mengangguk memberi isyarat untuk menaiki angkot. mobil ini berjalan santai tanpa memburu waktu. kurang dari 5 menit , angkot ini berhenti di sebuah pasar yang masih sunyi .Beberapa lapak yang seharusnya diIsi pedagang buah kosong kehabisan stok. maklumlah, mangga -mangga yang menjadi andalan utama masih berbunga kemarau ini. kami turun, berjalan pelan menuju sebuah dermaga. Lopp parindo, itulah nama dermaga ini yang berlokasi Tepat didesa Tigaraja , Prapat.

Suasana desa ini masih asri dan harmoni, senja ini belum terganggu oleh terik mentari. kulihat para nelayan pulang membawa hasil tangkapan, inang2 sibuk mencuci ditepi danau.Sebagian lain memajang dagangan di pasar Tigaraja. Anak -anak sudah mulai berhamburan menuju sekolah.

Pukul 07.25 , Suara Sirine membentak dermaga dan memekik pagi. Ini menandakan, Sebuah kapal kecil  bersiap-siap berangkat menuju desa Tomok, Samosir. Para penumpang yang masih santai berkeliaran , mulai serius menangggapi. Mereka berbondong-bondong menuju dermaga, barang-barang mulai ditarikkan . Tali penambat dilepas, aku mulai langkah dengan bismillah . Kapal ini mulai bergerak menghempas danau.

Aku baru ingat, hari ini adalah hari Jum'at . Sebuah hari yang tidak tepat untuk berwisata. Namun aura danau toba tak pudar hanya karena sebuah hari, para turis-turis berkulit putih masih berdiri tegap ditengah kapal kecil ini. senyumnya mencuat dengan kontras danau dipagi hari .

Lamunanku sedikit buyar ditengah danau, seorang remaja datang dengan gundah. menghampiriku , tatapannya polos , kulitnya hitam badanya kurus namun tetap berisi urat-urat besar penanda ia pekerja keras. kulihat tangannya menggoyang uang yang ia genggam. Tanpa perlu berbicara , aku paham maksudnya. Kuberi ia uang 5000 di saku,

dia mulai mengerutkan dahi sambil berkata :

"enam ribu hepeng nai" katanya

ternyata ongkos kapal sudah naik menjadi 6000, kutambahkan uang seribu dan melanjutkan lamunan. Kulihat tomok sudah ada didepan mata , kapal-kapal kecil berbaris rapi seperti di Venesia.  Bangunan-bangunan bergaya batak menghiasi tepi, naluri masyarakat samosir tergambar tangguh, keras dan harmoni yang kulihat saat ini.

Kapal pun menepi ditomok, kami telah meninggalkan tigaraja diujung selayang yang mengecil dengan background  tao toba.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template