Headlines News :
Home » » Mental Pungli, dari Jalan Tikus hingga Jalan Raya

Mental Pungli, dari Jalan Tikus hingga Jalan Raya

Written By abdul karim on Monday, 10 February 2014 | 17:29


Pungli , terus terang aku memahami kosa kata itu setelah tamat dari MTs , Hakekatnya pungli ini gunakan kegiatan pemerintahan yang mengutip uang illegal, namun sekarang membooming menjadi istilah pemuda/warga yang mengutip uang liar.  Awal tahun 2000-an ,  masyarakat mulai terbiasa dengan pemuda-pemuda yang tidak jelas filsuf dan opininya, memanfaatkan situasi untuk membentuk kegiatan pungutan liar (pungli). Mereka mengutip retribusi secara liar.  untuk menambah kesan sosial , sebagian para pelaku pungli menggunakan seragam dari organisasi kemasyarakatan tertentu atau membuka baju sambil menunjukkan cangkul untuk memperbaiki jalan atau hanya pretending saja.  .

Awalnya Mereka berbicara dengan bahasa pasar, kemudian mengoles sedikit gaya bahasa dengan gaya intelek menggunakan kata "Kontribusi" atau "Partisipasi". Padahal kita sama-sama tau, bahwa uang itu lebih banyak tersimpan dikantong pribadi . Ada beberapa moment yang sering dijadikan makanan bagi para pelaku pungli :


1. Razia Polisi 

Di tempatku , antara perbatasan kecamatan dan kota adminstratif sering terjadi razia gabungan  polres dan aparat lainnya. saat itu,  bagi para pengendara motor yang tidak membawa surat lengkap biasanya memutuskan untuk mengambil jalur tikus yang berada 500 meter sebelum TKP razia . ketika memasuki jalan tikus ini , kita dihadang oleh segerombolan pemuda dengan kata "partisipasinya bang" . Entah maksudnya partisipasi untuk apa , namun ketika kita tidak mau memberi mereka sering mencari ribut dengan makian atau menutup jalan. Sering terdengar dari mulut mereka "Parah kali kau bah, dari pada habis kau kena razia , apa salahnya kau kasi "partisipasi" sama kami". 

2. Event hiburan 

Masyarakat sangat senang jika ada sesuatu yang menghibur disekitar mereka.ketika ada acara seperti  turnamen bola atau pertandingan olahraga, pameran , kuda kepang dan sebagainya . Hal -hal seperti itu sering dimanfaatkan sebagai ajang pungli bagi pemuda setempat. Bahkan sering sekali mereka menaikan tarif diatas FUP tarif parkir nasional. What the f***!!

3. Hari-hari Besar

Hari-hari besar ? maksudnya gimana ? Oke.saya beri satu contoh, pada hari-hari besar atau libur nasional dikota medan sering langgeng . Namun pada tempat-tempat wisata seperti Wahana air  atau pemandian , kebun binatang dan tempat -tempat wisata lain, ramai dikunjungi. Berastagi misalnya , sebelum erupsi sinabung para warga lokal atau luar daerah sering menghabisi waktunya untuk berlibur disana. Nah, Karena padatnya jalan sering menimbulkan kemacetan parah hingga berkilo-kilo meter. Terutama kalau dari medan ke arah sembahe. Kami yang mengerti jalur alternatif , mencoba melewati namorambe untuk menghindari kemacetan. Namun apa yang terjadi ? pungli ada dimana-mana . Tidak hanya sekali saja kami temukan bahkah kami harus membayarhingga  tiga pos pungli . Para pungliers tersebut mencegat dan meminta uang dengan blak-blakan. Tak lupa kata-kata intelek "partisipasi" menghiasi bibir mereka.wal hasil jalur alternatif berubah menjadi jalur pungli


4. Jalur Objek wisata Alam

Nah..ini sering terjadi , teman saya rudi hartoyo pernah mengeluhkan hal ini saat mereka hendak berangkat menuju objek wisata alam tinggi raja. Pungli ini menutup jalur dan meminta retribusi secara liar. begitu juga pada objek wisata alam yang lain , terutama yang berada daerah tepencil. what a shocking moment


5. Jalur-jalur non retribusi

Para pelaku pungji (Pungutan Jinak) , Alias tukang parkir resmi juga bisa menjadi pungli jika dia meminta bayaran dijalur non retribusi. Contohnya kampus, walaupun berada dipinggir jalan, tetap ada dispensasi untuk tidak diminta uang retribusi dengan alasan kawasan pendidikan. Nah..para pungji ini terkadang saling berkongkalikong untuk memanfaatkan kampus-kampus yang tidak tahu hal ini untuk meminta retribusi liar kepada setiap mahasiswa yang parkir didepan kampusnya sendiri. Ini pernah terjadi ketika saya ngampus dulu. 

Nah, diatas semua kisah tipe-tipe pungli . Nah bagaimana para pengendara menyikapinya , ada beberapa tipe pengendara yang menyikapi pungli , antara lain. 

1. Pengendara Legowo

Nah pengendara tipe ini memilih untuk berendah hati , alias legowo. Biasanya mereka berfikir seperti ini"Dari pada ribut-ribut, kasi sajalah duitnya, cuma seribu kok, lagi pula salah benar mereka, cuma tuhan yang tahu dan biar tuhan yang balas " . 

2. Pengendara Militan

Pengendara ini memilih untuk melawan dan bertahan , mereka berprinsip kebenaran harus ditegakkan. amar ma'ruf nahi mungkar. Biasanya pengendara ini berada dalam posisi meyakinkan (polisi, militer, advokat , orang hebat) nah terkadang ada juga yang tidak punya posisi namun punya nyali, mereka ada yang beruntung melewati dengan busung dada ada juga yang babak belur karena ribut dengan pemuda setempat. 

3. Pengendara alim

Pengendara ini berusaha menasehati para pungliers dengan kata-kata bijak. Dan jika tidak digubris dia tetap memberi dengan ikhlas sambil berdoa semoga pungliers diberi hidayah , namun melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib. dan membuat usaha agar pungli tidak meresahkan pengguna jalan . 

4. Pengendara Bohong

Pengendara ini mengelabui pungliers dengan pembohongan agar bisa lewat tanpa bayar . "Waduh bang, orang desa sebelah nya aku bang , masa' orang sini pun abang minta"  atau menjual nama warga yang terkenal didaerah situ " bang , aku ni keponakan masduki kepala desa sini bang" dan yang lebih parah , sok kenal dengan para pungliers , "Abang siapa namanya ? oh.jhon, abang ga kenal sama ku lagi, dulu rumahku samping rumah abang lho." dan sebagainya. 


Nah itu sebagian tipe-tipe pengendara menghadapi pungliers, baik kita bicara masalah hukum sekarang. untuk undang-undang pungli disetarakan dengan undang-undang gratifikasi . berikut dikutip dari wikipedia 

"Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian biaya tambahan (fee), uang, barang, rabat (diskon), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik "
Landasan hukum tindak gratifikasi diatur dalam UU 31/1999 dan UU 20/2001 Pasal 12 dimana ancamannya adalah dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan paling banyak 1 miliar rupiah."


Ok..sekarang kalian tahu bahwa pungli itu bukanlah perkara yang benar. Dan bisa dilaporkan kepada pihak berwajib. jika betul-betul sudah sangat meresahkan masyarakat dijalan. Dan pendidikan untuk para pemuda agar lebih baik menggunakan cara yang lebih afdhal ketimbang mengutip secara ilegal. 


Share this article :

4 comments:

  1. Pungli sudah menjamur dimana-mana.....

    dan untuk jenis pengendara Bohong, itu orangnya sok akrab n sok kenal..hahha

    ReplyDelete
  2. yg paling gak srek,, pungli yg dilakukan oleh OKP,, mereka tuh ada PREMAN berkeduk Organisasi Kepemudaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..tuh, terakhir niat OKP bagus buat pemuda, jadi terkesan jelek dengan kegiatan seperti itu

      Delete

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template