Headlines News :
Home » » Wisata Religi dan Sejarah, Mesjid Raya Baiturrahaman Banda Aceh

Wisata Religi dan Sejarah, Mesjid Raya Baiturrahaman Banda Aceh

Written By abdul karim on Thursday, 16 January 2014 | 20:55

Saya dan teman didepan Masjid Baiturrahman


Mini bus yang kami tumpangi sudah letih meliuk-liuk selama 13 jam dari Medan menuju Banda Aceh, Awal tahun baru ini kami mengunjungi salah satu daerah Istimewa yang di Juluki Serambi Makkah itu. Dan tak kalah ketinggalan , Salah satu destinasi yang menjadi target perjalanan kami adalah Bangunan Religi yang bertengger megah di tengah kota Banda Aceh yaitu Mesjid Raya  Baiturrahman , sebuah Mesjid Raya kebanggaan masyarakat Aceh yang menjadi saksi bisu teriakan perjuangan-perjuangan aneuk nanggroe sejak masa penjajahan Belanda hingga tempat berlindung dari Tsunami yang meluluh lantahkan Pesisir utara Aceh 10 tahun silam .

Suasana Sore di Kawasan Mesjid Baiturrahman


Mesjid Megah nan Unik
Baik disini aku akan cerita sejenak tentang mesjid yang kukunjungi ini . Ini bukan bangunan biasa , Ini merupakan mesjid Terbesar di Propinsi Nanggroe Aceh Darusalam, memiliki nilai artistik bangunan yang highclass dan luxior, Sebelum memasuki kawasan Masjid Baiturrahman kita dihadapkan kepada gerbang dengan teks yang diukir dalam  3 bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia) yang berbunyi : Anda Memasuki Kawasan Wajib Berbusana Muslim/Muslimah" , jadi bagi anda, diharuskan memakai busana muslimah seperti yang tekankah pemerinta Aceh. Masuk kekawasan ini kita berdecak kagum pada Arsitekturnya yang   bergaya campuran antara Bangunan khas Arab , Persia dan India . Ketujuh  kubahnya kokoh bersama dengan kombinasi hitam dan putih yang indah.  Masjid ini jug di kawal oleh 4 menara dan 1 menara utama, Dengan luas ruangan 4760 M2  yang berisi lantai marmer buatan Italia dengan ukuran satuan 60 x 120 cm , ruangan mesjid ini mampu menampung 9000 Jama'ah . dihalaman masjid terdapat  Kolam yang tergenang manis yang mengingatkanku pada gambaran Taj Mahal yang tersohor di Agra, India. Komplek masjid ini memiliki luas sekitar 4 Hektar dibaluti oleh Rumput nan hijau dan dihiasi tanaman-tanaman indah seakan-akan membuat pelataran mesjid ini seperti taman kota yang welcome terhadap Masyarakat. Setiap hari ada saja pengunjung yang melepas lelah atau hanya berjalan-jalan di kawasan Mesjid Baiturrahman ini .

Salah satu sudut ruangan Masjid Baiturrahman
sumber : http://rinaldimunir.files.wordpress.com

Dikunjungi wisatawan Lokal dan Mancanegara
Saat kami mengunjungi Mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh ini , terdapat juga wisatawan mancanegara yang datang dan melihat arsitektur mesjid yang khas. Namun harus kita ketahui pula , NAD memiliki aturan daerah sendiri berupa qanun-qanun syariah Islam ditegakkan dipropinsi ini , terutama di Kota Banda Aceh. Sehingga peraturan-peraturan syariah harus di patuhi bagi setiap masyarakat luar yang berkunjung ke Aceh. Dan salah satu aturan tersebut yaitu harus memakai pakaian muslimah setiap memasuki kawasan Masjid seperti yang tertera diatas. Untuk memenuhi kebutuhaan para pengunjung non syar'i, disudut kiri masjid terdapat konter jubah yang menyediakan busana muslim dan muslimah. Sehingga para turis pun tetap bisa berkunjung dengan pakaian syar'i, biasanya guide langsung memandu para turis ke konter jubah untuk menukar pakaian mereka.  .

Wisatawan Mancanegara di Mesjid Baiturahman
(sumber : www.kabaracehonline.com)
Sejarah Panjang Mesjid Baiturrahman

Salah satu poin penting dari nilai Masjid Baiturrahman ini yaitu memiliki nilai sejarah yang mengagumkan, ada 2 versi kapan mesjid ini mulai dibangun pada masa kesultanan Aceh , pertama pada tahun 1292 M (621 H ) oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah, Perluasan mesjid juga dilakukan kembali pada masa Pemerintahan Nakiatuddin Kinayat Syah pada tahun 1675-1678 M. Kemudian versi kedua didirikan oleh Sultan Iskandar Muda 1612 M (1022 H) . Banyak para sejarawan yang berpendapat bahwa pada masa itu Masjid Baiturrahman masih berkonstruksi kayu , beratapkan rumbia dan berlantaikan tanah liat yang mengeras padu menyerupai semen.dan parah jama'ah masih menggunakan tikar untuk sholat juga kubah mesjid yang belum berbentuk dome seperti sekarang ini . Selain sebagai tempat ibadah , pada masa itu masjid ini juga menjadi pusat pendidikan (ilmu agama, ilmu politik , hukum , kenegaraan dan kebudayaan) di nusantara. Pada saat itu banyak pelajar yang berasal dari berbagai daerah nusantara bahkan dunia ( arab, turki , India dan Parsi ) datang ke Aceh untuk menuntut ilmu Agama . Sebagai pusat pendidikan , Masjid baiturrahman juga menjadi pusat kekuatan masyarakat dan kerajaan Aceh. 

Pada masa perang Aceh dengan Belanda , mesjid ini menjadi salah satu markas pertahanan Tentara Aceh,Ini membuat Belanda melakukan Agresi dan membakar habis  Masjid Baiturrahman pada tahun 1873. H , Saat itu , salah satu petinggi militer Belanda sekaligus pimpinan pertempuran Mayjen Kohler tewas tertembak di dahi oleh Pasukan Aceh di perkarangan Masjid Baiturrahman ini .Dan pada tanggal 6 Januari 1874 , Belanda kembali melakukan penyerangan dan Berhasil membakar kembali Masjid Baiturrahman Aceh . Beberapa tahun kemudian , pada tahun 1879 Pihak Belanda melalui Gubernur Jendral Van Der Heijden membangun kembali masjid Raya ini dengan peletakan batu pertama oleh Teuku Kali Malikul Adil pada tanggal 9 Oktober 1879 yang pada saat ini Baiturrahman masih memiliki Dua Kubah Saja . Jika kita melihat di bawah pohon Geulumpang di sisi kiri depan halaman Masjid, kita akan melihat sebuah monuman kecil  untuk mengenang peristiwa perang Aceh tersebut. 

Masjid Raya Baiturrahman Tempoe Dolee


Sejak 1879 hingga 1993 Masehi , Masjid Baiturrahman telah mengalami lima kali renovasi, yang kedua pada tahun 1935 menambakan 2 kubah dikanan Kiri Masjid, ketiga antara tahun 1967 hingga 1981 Masjid Baiturrahman telah menambah perluasan dan 2 kubah lagi , Sehingga total Kubah menjadi lima.Salah satu perluasan ini dilakukandalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, kemudian Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayat Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan. Yang keempat pada tahun  1991 M, dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. 



Bagian masjid yang diperluas,meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret. Dan yang kelima , Renovasi besar-besar dilakukan pada 1993. Menyisakan bangunan lama di bagian depan, masjid diperluas dengan menambah dua lantai, sehingga sanggup menampung 1.500 jamaah, dari sebelumnya yang hanya memuat 400 jamaah. Bangunan asli masih terlihat utuh dibagian depan.

Tsunami dan Saksi Bisu 
 26 Desember 2004 menjadi tanggal tak terlupakan  akan  kedahsyatan bencana tsunami yang menghantam Banda Aceh hingga menewaskan ratusan ribu warga Aceh. Mesjid ini tetap kokoh berdiri , bahkan saat gelombang mencapai tinggi belasan meter, kondisi air berubah hanya sebatas tangga pada Masjid ini . inilah salah satu bentuk kuasa ilahi . di sekitar Masjid hanya bergelimpang sampah-sampah dan mayat-mayat terjangan Tsunami ,sementara mesjid kokoh berdiri seakan tak ada bencana yang terjadi. 

Mesjid Baiturrahman di Antara hantaman Tsunami

Masjid Raya Baiturrahman Kini 

Malam indah bersama Masjid Baiturrahman
sumber : www.seputaraceh.com

Upaya renovasi pasca-tsunami menelan dana sebesar Rp20 miliar. Dana tersebut berasal dari bantuan dunia internasional, antara lain Saudi Charity Campaign. Proses renovasi selesai pada 15 Januari 2008. Saat ini, Masjid Raya Baiturrahman menjadi pusat pengembangan aktivitas keislaman bagi masyarakat Banda Aceh. 
Kini Masjid ini menjadi pusat wisata sejarah dan religi yang berdiri megah ditengah -tengah rakyat Aceh dan Indonesia yang harus kita jaga. Jangan kita kotori secara materil ataupun moril. 
Kami pun pergi dari persinggahan terakhir dan kembali menuju medan dengan hati yang damai bersama masjid Baiturrahman. 



Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template