Headlines News :
Home » » Bukit Lawang : Short Time Trekking di Negeri Orang Utan

Bukit Lawang : Short Time Trekking di Negeri Orang Utan

Written By abdul karim on Friday, 4 October 2013 | 05:21

Wisata Alam Bukit Lawang - Bus Merah berlabel Pembangunan Semesta yang kami tumpangi mulai merayap dan meninggalkan terminal pinang baris medan, matahari yang sudah mulai tersenyum naik menegur kami untuk mengulur mata ke arah kanan. Pasar kp.lalang yang tumpah kejalan sedikit mengaggu keasikan supir yang ingin bergerak mulus. Kami harus menempuh jarak 80 km untuk bisa menumpahkan rasa ingin tahu tentang bukit lawang. Sebuah ekowisata yang terletak di kecamatan bahorok , langkat sumatera utara .
Bukit Lawang merupakan destinasi yang cukup menggairahkan untuk disentuh,sebelum tiba dilokasi, alur pemandangan pegunungan dan perkebunan yang indah menjadi gapura hidup yang akan mengajak mata anda untuk bermanja-manja melihat anugrah tuhan ini . sebagai bagian dari kesatuan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), bukit lawang menghadirkan ribuan pesona alam yang atraktif sepeti trekking, hiking,tubing ,camping hingga rafting .

Dalam informasi yang kami baca, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) adalah salah satu tempat pelestarian alam seluas 1.094.692 Hektar dan masuk dalam kategori situs warisan dunia dari UNESCO pada tahun 2004 sebagai warisan hutan hujan tropis yang didalamnya terdapat habitat penting 4 hewan terancam punah sekaligus , antara lain Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii).dan bukit lawang adalah bagian kecil dari TNGL yang membangun kelestarian alam Bukit Barisan Sumatera

Kami yang telah tiba dilokasi , langsung bergegas menuju arah bawah dari jembatan gantung yang membelah pemandangan sungai bahorok. Dalam waktu yang relatif singkat seorang lelaki paruh baya sudah mendatangi kami dan menawarkan pondok yang mereka sewakan . Dengan membayar tarif sebesar 50000 sudah bisa menceburkan diri dan menikmati pemandangan sungai bahorok yang mengalir lembut .
Septri , seorang native guide yang ada mendekati kami dengan antusias mempromosikan travel guideline yang ada dibrosur kusut yang ia pegang, disana tertulis beberapa paket wisata yang berkisar 200-300 ribu rupiah / Malam dengan komposisi : akomodasi, trekking ke TNGL, Traditional Rafting Juga menelusir gua dan air terjun di sekitar Bukit Lawang. Disamping itu mereka juga memberi jasa guide untuk trekking dengan rute short time menuju TNGL . dengan membayar uang pandu sebesar 20.000 – 30.000 rupiah kita sudah di tuntun untuk menuju kesana tanpa membayar additional cost lagi. Biasanya TNGL di buka pada waktu feeding ( pemberian makan orang utan ) yakni antara pukul 08.00 – 09.00 wib dan 03.00 – 16.00 WIB . dan kami harus memulai trekking ini satu jam sebelum feeding. Setelah selesai ibadah sholat zuhur dan makan siang hati ini sudah mendorong kuat untuk berangkat , Septri cukup lihai dalam menjelaskan sisi –sisi objektif dari bukit lawang , banjir bandang yang melumat bahorok ,november 2003 lalu menjadi pelajaran berarti bagi penduduk setempat. Promosi wisata mulai digalakkan , dan beberapa jungle hotel dan accomodir sudah memberi kemudahan kepada turis –turis melalui paket wisata yang disediakan dan sudah dapat dipesan secara online. Sebut saja seperti jungle inn, sam, kupu-kupu garden, jungle tribe dan green hill.

Perbincangan menarik dengan septri memberi kami wawasan yang lebih terarah tentang lingkungan hidup, perjalanan trekking selama 30 menit mengantar kami didepan sampan kecil yang menyebrangkan para pengunjung menuju TNGL yang berada diseberang sungai . “nanti kita akan menyebrang di sini jam 3 sore, sementara menunggu kita mandi didekat air terjun disana , gimana ? “. Aku hanya mengangguk mengikuti alur trekking yang dibawa septri , kami pun memandang luruh dinding hijau TNGL yang begitu natural dan harmoni. Aku hanya memotret panorama ini , sementara rekan-rekan yang lain sudah tidak tahan menceburkan badan diantara riak putih sungai bahorok . dari kejauhan tampak para turis sedang menikmati arung jeram tradisional yangmemilik tarif lebih kerdil dari rubber rafting.

Jam pun sudah melesat perlahan di angka tiga, kami mulai menaiki sampan penyebrangan , para turis mancanegara berjejer menunggu para ranger. Kusempatkan berbincang-bincang sejenak dengan mereka yang begitu tertarik akan natural toast yang disuguhkan tuhan melalui ekosistem yang ada di leuser ini . Para turis tidak mau ketinggalan untuk melewatkan kesempatan melihat orang utan secara langsung dari alam .orang yang saat ini jumlahnya tidak lebih dari 7000 ekor terus mendapat perhatian dari berbagai elemen konservasi dunia, baik dari pemerintah atau Non Goverment Organization ( NGO ) yang menatasnamakan leuser sebagai tempat yang harus di lindungi. Populasi orang utan yang semakin merosot berbanding lurus dengan human error yang terjadi . ini menjadikan Situs Warisan Dunia Leuser sudah terancam mask i Red Zone oleh UNESCO sejak 2011 lalu , sungguh ironis.
Tak lama para ranger menuntun kami naik keatas hutan, selama 15 menit kaki dan dada mulai terasa sakit menaiki jalur yang tajam dan curam. Septri sudah memperingatkan kami agar tidak memberi makanan atau mengganggu mereka ,karena secara fisik tenaga manusia tidak mampu mengimbangi orang utan.jarak aman untuk melihat mereka minimal 7 meter kata septri .”ada orang hutan , namanya mina bang. Dia yang terkenal paling agresif terhadap manusia , jadi kita jangan bertindak gegabah didepan nya “ ujar septri . Walau namanya sedikit islami , tapi dia tetap orang hutan ..tidak ada hubunganya dengan rengkarnasi darwin , atau hewan bekas kutukan . Mina yang kami tunggu belum menunjukkan suara dan geriknya . di atas papan 2 x 2 meter para penghuni hutan mulai dipanggil ,monyet dan gibon mulai berdatangan ...namun orang utan belum satupun muncul dari ujung belantara bukit lawang ini , sepertinya hari ini kami harus kecewa karena sore ini mereka tidak ramah kepada pengunjung . Jacob, turis asal prancis halus menghela nafas karena gagal mengabadikan foto orang utan dan menunggu esok harinya . kami pun kembali menuju sei bahorok dan pergi meninggalkan rasa kecewa hari ini . Menurut guruku ,sebelum tahun 1992 lalu ketika ia menjadi guide disini ,, begitu mudah memanggil orang hutan , hanya dalam waktu menit mereka sudah datang dengan cepat secara banyak . Perubahan iklim dan human error telah merusak ekosistem mereka. Sebagai warga yang baik kita patut melestarikan alam ini . jangan salahkan tuhan kalau alam ini rusak , karena tuhan tidak mengubah satu kaum sebelum ia merubahnya . alam ini tidak rusak kalau bukan karena human error yang dibudidayakan. Save leuser...save our earth


Kami pun pulang , meninggalkan para monyet,turis dan aroma leuser . langkah kami semakin cepat mengayun , bus merah pembangunan semesta sudah menanti di pinggir jalan. See you arround ..bukit lawang.

Pintu Gerbang TNGL
Pintu Gerbang TNGL
Trekking
Trekking
Perahu Penyebrangan Menuju TNGL
Perahu Penyebrangan Menuju TNGL
Panorama Bukit Lawang
Panorama Bukit Lawang
Orang utan ini bernama mina..
(foto: detik.travel.com)
Orang utan ini bernama mina.. (foto: detik.travel.com)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template